Submit ke IJBML: Sebuah Jalan Panjang dan Berliku

Mengirim artikel ke International Journal of Mobile and Blended Learning (IJBML) adalah salah satu pengalaman submit jurnal saya yang paling menantang. Pada waktu itu, Wasis D. Dwiyogo, dosen Universitas Negeri Malang, meminta saya untuk mengirim salah satu artikelnya ke jurnal tersebut. Saya pun memenuhi permintaan tersebut karena memang sudah menjadi salah satu layanan dari agensi kami.

IJMBLJurnal ini termasuk jurnal yang memiliki sistem pengiriman secara online. Sehingga penulis yang hendak mempublikasikan karyanya di jurnal ini harus menjadi anggota sistem online tersebut. Saya pun, atas nama Wasis, mendaftarkan diri di sistem tersebut. Awalnya saya mengira proses pengiriman artikel akan menjadi lebih mudah dengan sistem online tersebut. Namun ternyata dugaan saya sedikit meleset.

Saya membutuhkan waktu hingga sekitar 1 minggu untuk mengirim artikel tersebut plus 6x korespondensi dengan editor IJBML. Apa pasal? IJBML mensyaratkan agar seluruh gambar atau figures di dalam naskah artikel agar dipisahkan dari file naskah dan berdiri sendiri sebagai sebuah file independen. Dalam artikel milik Wasis, ada 9 gambar yang harus saya keluarkan satu per satu dengan cara menyimpannya dalam format gambar.

Setelah mengunggah kesembilan gambar tersebut di sistem online, ternyata sistem menghendaki agar gambar yang diunggah berbentuk .tiff. Walhasil, saya pun harus membuka aplikasi image converter untuk mengubah format gambar-gambar tadi ke format sesuai keinginan jurnal. Ternyata petualangan saya tidak berhenti di situ.

Setelah saya mengunggah ulang semua gambar itu dalam format yang baru, sistem membaca adanya kesalahan dalam resolusi dan ukuran gambar. Semua gambar yang saya unggah tidak sesuai dengan persyaratan mereka karena dibutuhkan gambar dengan resolusi minimal 300 dpi dengan ukuran lebar minimal 6.25 inci agar bisa diunggah di sistem. Singkat cerita, dengan berkonsultasi ke beberapa pihak yang lebih paham mengenai gambar daripada saya, saya pun berhasil mengunggah ulang semua gambar-gambar itu dengan ukuran yang benar. Namun, masih ada satu masalah lagi yang mengganjal.

Usai mengunggah gambar, sistem ternyata membaca bahwa dalam file naskah yang saya unggah tidak ada satupun indikasi bahwa artikel tersebut memiliki gambar. Dikatakan jumlah gambar dalam naskah itu adalah 0 dari 9 gambar yang telah saya unggah sebelumnya. Apa yang salah? Ternyata, dalam konsultasi saya dengan editor jurnal melalui email, saya harus menuliskan dengan tepat nama gambar tersebut di dalam naskah. Jadi, saya harus menulis di tempat di mana gambar tersebut seharusnya berada dengan nama “Figure 1”, “Figure 2”, dan seterusnya hingga 9 gambar.

Tidak cukup di sana. Setelah saya mengunggah ulang naskah, ternyata sistem belum membaca adanya gambar di dalam naskah tersebut. Akhirnya, dalam konsultasi keenam bersama editor, saya berhasil memecahkan masalah ini. Yakni, dengan menyisipkan (baca: insert) Image Caption di baris kosong tempat gambar tersebut seharusnya berada di dalam naskah. Setelah saya menggunakan fitur ini, barulah sistem membaca bahwa ada 9 dari 9 gambar yang saya unggah yang ada di dalam naskah ini.

Submitted 2

Sepenggal cerita pengalaman saya mengirim jurnal ini memberikan hikmah bahwa proses submission jurnal ternyata bukanlah proses yang mudah. Terkadang ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang penulis sebelum mengirimkan artikelnya. Bila penulis tidak jeli memelajari Author Guidelines yang ada di setiap halaman web jurnal, bisa jadi jurnal akan langsung menolak artikel Anda hanya karena formatnya tidak sesuai dengan yang mereka inginkan.

Oleh karena itulah, untuk membantu meringankan beban dalam pengiriman artikel ke jurnal internasional, TerjemahJurnal.com siap membantu Anda di kala Anda hendak menerbitkan artikel Anda. Kami akan memelajari seluruh guidelines yang diminta oleh jurnal untuk kemudian mengatur format artikel Anda agar sesuai dengan petunjuk jurnal. Prinsip kami, Anda pikirkan kontennya, kami akan urus pengirimannya.