Jurnal Terindeks Scopus, yang Bebas Predator, Tapi Juga Cepat: Adakah?

1

Apa yang paling dicari oleh mahasiswa program Doktor yang saat ini sudah menginjak semester-semester akhir masa studinya? Jawabannya adalah: jurnal terindeks Scopus, yang bebas dari daftar jurnal predator, dan …. CEPAT proses terbitnya!

Pertanyaannya, adakah jurnal yang seperti itu?

Jawabannya: Tidak ada. Kecuali, tentu saja, Anda sendiri yang memiliki jurnal tersebut. Hehe.

Namun, walaupun itu jurnal Anda sendiri, sebenarnya juga tidak elok jika apapun karya ilmiah Anda otomatis diterbitkan. Tanpa proses review yang berkaidah. Atau Anda sendiri yang menunjuk Reviewer-nya, lalu Anda minta ia untuk mempercepat prosesnya. Tentu semua proses ini akan menghancurkan kredibiltas jurnal Anda sendiri.

Anyway, belakangan hari ini banyak bapak-bapak dan ibu-ibu mahasiswa program Doktor yang berbincang dengan saya seputar ini. Baik lewat tatap muka langsung maupun lewat WhatsApp. Pertanyaannya semua sama. Mengapa? Karena dikejar batas waktu untuk segera mengikuti ujian akhir. Supaya tidak lewat batas waktu semester. Supaya tidak bayar lagi. Atau, masa berlaku beasiswa segera habis.

Masalahnya, kebanyakan dari para mahasiswa tersebut baru mulai memikirkan atau menulis artikel ilmiahnya setelah disertasi selesai ditulis. Pastinya sudah menginjak semester akhir. Sementara itu, kembali kepada jawaban saya di atas tadi, tidak ada jurnal terindeks Scopus yang aman di mata Dikti, tetapi juga cepat proses penerbitannya. Berikut ini adalah hal yang saya sampaikan kepada beliau-beliau berkenaan dengan salah satu syarat mengikuti ujian akhir atau kelulusan ini.

Jurnal terindeks Scopus. Adakah biaya? Tidak ada. Kecuali sebagian kecil yang pernah saya temui. Tapi pada dasarnya, tidak ada biaya. Karena jurnal-jurnal tersebut berada di bawah organisasi yang matang yang sekaligus sebagai donatur utama. Misalnya, universitas. Atau jurusan tertentu di bawah suatu universitas. Misalnya yang lain, penerbit jurnal yang sudah matang. Contoh, Elsevier, Emerald Insight, Springer, Inderscience, SAGE, John Wiley & Sons, Routledge, dan lain-lain. Pemodelan bisnis mereka bukan pada penerimaan biaya dari setiap artikel yang masuk. Tetapi dari artikel-artikel yang masuk lewat jalur Open Access. Biasanya berbiaya ribuan USD. Ada yang 1500, ada yang 1800, dan seterusnya. Dan tentu ini bukan untuk kita penulis ilmiah dari hasil disertasi. Tapi untuk mereka yang mendapat pendanaan dari suatu skema pendanaan universitas, pemerintah, atau lembaga penelitian di luar kampus. Jadi, soal biaya, tak perlu khawatir. Gratis. Mungkin biaya untuk jasa perusahaan saya saja. Hehehe.

Nah, kemudian, bisakah cepat terbit? Jawabannya, tidak bisa. Begini proses penerbitan sebuah artikel ilmiah di jurnal-jurnal bereputasi. Setidaknya menurut pengalaman saya membantu ratusan kandidat doktor dan doktor-profesor untuk menerbitkan artikel di jurnal internasional. Mohon koreksi bila ada yang kurang tepat.

Pertama, artikel yang dikirim akan melalui proses seleksi awal. Biasanya yang meng-handle adalah sang Editor-in-Chief sendiri. Sepertinya, ia hanya melihat judul, abstrak, kata kunci, dan sekilas isi naskah. Tidak dibaca utuh dan mendalam. Jika tidak sesuai dengan Tujuan dan Cakupan bidang jurnal (dalam beberapa hal secara subyektif “keinginan” bapak/ibu Editor-in-Chief), naskah langsung dikembalikan dalam hitungan hari. Tercepat, satu hari setelah pengiriman. Namun, jika sesuai, maka akan langsung lanjut ke tahap berikutnya, yang memerlukan banyak doa dan kesabaran. Hehe.

Tahap kedua adalah Blind Review. Maknanya, dua atau tiga orang Reviewer yang ditunjuk oleh Editor-in-Chief tidak tahu menahu ini naskah punya siapa. Mereka hanya tahu ini ada naskah, tolong di-review. Bisa saja punya kolega dekatnya sendiri, atau bapaknya, atau anaknya, atau istrinya. Mereka tidak tahu karena nama penulis dan afiliasinya sudah dihapus dari naskah. Andai Anda kenal semua Reviewer di jurnal tersebut, dijamin prosesnya akan tetap sama. Ini untuk menjaga obyektifitas penilaian naskah.

Nah, proses tahap kedua inilah yang bisa memakan waktu agak lama. Saya selalu berpesan kepada klien saya, mohon alokasikan waktu antara 1 sampai 6 bulan. Di beberapa kasus, satu tahun lamanya. Dan tidak ada kabar lagi. Hehe. Berarti ada masalah dengan sistem administrasi jurnal tersebut.

Anyway, lama tidaknya proses review nampaknya bergantung pada, pertama, frekuensi terbit jurnal tersebut. Apakah dua kali setahun (bi-annual, bulan Juni & Desember), atau tiga kali setahun (April, Agustus, dan Desember), atau empat kali setahun (Maret, Juni, September, dan Desember), atau 6 kali setahun (bi-monthly), 12 kali setahun (monthly), bahkan 14 kali setahun. Semakin sering frekuensi terbit, semakin cepat proses review, dan semakin cepat hasil didapat. Sebaliknya, semakin sedikit frekuensi terbit, semakin lambat proses review.

Faktor kedua adalah jumlah reviewer (bahasa kita: Mitra Bebestari). Semakin banyak jumlah reviewer, semakin cepat proses review, dan semakin cepat kita dapatkan keputusan. Dan vice versa. Apalagi perlu diingat, bahwa reviewer pun biasanya juga bekerja sebagai dosen, yang punya kewajiban Tri Dharma. Jadi, beliau-beliau akan melakukan pekerjaan review-nya di sela-sela tugas utama mereka tersebut.

Adapun setelah kita melampaui dua tahapan ini, masih ada “ujian” lain yang perlu dipersiapkan. Yakni, keputusan Editor atas naskah Anda. Opsinya ada empat: Menerima secara utuh, meminta revisi besar (Major Revision), meminta revisi kecil (Minor Revision), atau Menolak. Dua proses yang di tengah, revisi besar dan revisi kecil, menambah panjang masa tunggu Anda. Karena setelah Anda merevisi naskah Anda, maka reviewer akan me-review ulang naskah Anda. Ini bisa terjadi 2 sampai 3 kali. Mirip seperti naskah milik mahasiswa S3 kedokteran yang saya bantu dulu. Alhamdulillah, setelah 7 bulan berproses, akhirnya dinyatakan TERBIT, oleh sebuah jurnal terindeks Scopus di bidang kedokteran.

Untuk itu, jika Anda sedang terburu-buru ingin segera mendaftar ujian akhir, sementara proses penerbitan naskah di jurnal internasional terindeks Scopus juga baru dilakukan akhir-akhir ini, tidak ada cara lain kecuali Anda menjalaninya, dan berharap yang terbaik. Sembari berpesanlah kepada adik-adik kelas Anda: Mulailah menulis artikel ilmiah sejak semester pertama atau kedua. Agar tidak menjadi beban di semester akhir nanti.

Salam,
Aulia Luqman Aziz
www.terjemahjurnal.com
Publising Editor of EconEurasia.com