Scopus: Tak Kenal Maka Tak Sayang

Oleh: Aulia Luqman Aziz

Artikel ini diterbitkan di harian Jawa Pos, edisi 29 Juli 2019. Untuk membaca versi daring, klik di sini.

Prof. Budi Darma menulis sebuah artikel pada Jawa Pos edisi 26 Juli 2019 yang dapat memancing diskusi hangat di kalangan akademisi. Dalam artikel berjudul “Jebakan Rogue Journals” itu, beliau menyampaikan kegelisahan para dosen tentang bagaimana saat ini publikasi di Scopus dijunjung sebagai bagian terbesar yang menentukan tinggi-rendah reputasi seorang akademisi kampus. Meski sepakat dengan sebagian besar yang beliau sampaikan, saya memandang ada sedikit bagian yang perlu diklarifikasi lebih lanjut. Agar kita dapat bersama-sama mendudukkan permasalahan Scopus ini dari sudut pandang yang lebih komprehensif. Tak buru-buru gentar, atau bahkan memusuhi Scopus. Dan selanjutnya dapat bersikap secara lebih arif dan positif.

Fenomena para dosen di Indonesia yang semakin Scopus-minded memang tak terelakkan lagi. Karena memang lembaga pengindeks jurnal (bukan “jurnal” itu sendiri, sebagaimana yang Prof. Darma tulis) bernama Scopus ini berwujud dalam sebuah platform lengkap yang dibutuhkan oleh peneliti manapun. Tak hanya menyuguhkan data judul, nama penulis, abstrak, serta kata-kata kunci berbagai karya ilmiah yang dipublikasikan oleh ilmuwan di berbagai jurnal di seluruh dunia (sejak era Perang Dunia ke-2), tetapi juga menyediakan alat pengukur (disebut dengan CiteScore) untuk mengetahui sejauh mana karya-karya itu bermanfaat untuk pengembangan keilmuan berikutnya. Yakni, dengan mengukur berapa jumlah karya ilmiah yang ditulis di kemudian hari yang mengutip artikel yang tercatat oleh Scopus. Semakin banyak jumlah kutipan dari artikel tersebut, maka semakin tinggi pula reputasi penulisnya, dan semakin besar pula kemungkinan penulis tersebut dianggap sebagai “maha guru” dalam disiplin ilmunya.

Lebih jauh lagi, dari kunjungan saya ke kantor Elsevier (penerbit ilmiah yang melahirkan Scopus) di Singapura kemarin, saya mendapat penjelasan bahwa ternyata Scopus juga menyuguhkan data pengukuran reputasi setiap jurnal (sebagai wadah publikasi karya-karya ilmiah tersebut). Bahkan reputasi publikasi setiap negara di dunia, termasuk Indonesia. Alexander van Stervellen, Senior Consultant Elsevier, membeberkan kepada saya bahwa peringkat reputasi Indonesia di ASEAN menanjak ke dua besar. Tapi meninggalkan masalah dengan hanya sebagian kecil artikel dari Indonesia yang diterbitkan oleh jurnal-jurnal papan atas dunia (peringkat ke-4). Dari sini, nampak bahwa Scopus memang sebuah alat all-in-one yang handal untuk mendukung sekaligus mengukur kinerja publikasi setiap dosen, jurnal ilmiah, dan negara.

Berkaitan dengan seminar (atau mungkin lebih tepatnya “konferensi ilmiah”) bertajuk internasional dengan iming-iming kemudahan (atau otomatis) penerbitan di jurnal terindeks Scopus, menurut saya itu adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi, jika kita memahami cara kerja konferensi ilmiah dan jurnal ilmiah. Keduanya adalah entitas yang berbeda dengan masing-masing kebijakan publikasinya. Singkat kata, setiap artikel yang dinyatakan berhak dipresentasikan oleh penulisnya dalam suatu konferensi ilmiah belum tentu otomatis bisa diterbitkan pula di jurnal terindeks Scopus. Sebagaimana yang digembar-gemborkan dalam media promosi sebagian konferensi ilmiah. Karena setiap jurnal mensyaratkan adanya “ulasan sejawat” (peer review) untuk menilai kelayakan atau kualitas sebuah artikel. Dan pada jurnal terindeks Scopus, proses itu tak main-main. Minimal dilakukan dua orang. Dengan kedua orang itu tak tahu artikel siapa yang sedang diulasnya. Agar tak ada kongkalikong antara penulis dan pengulas sejawat (disebut sebagai Double-blind Review). Sedangkan konferensi, menurut pengalaman saya, penyelenggara biasanya lebih longgar dalam menyeleksi naskah artikel yang dikirimkan kepadanya daripada jurnal ilmiah. Mungkin karena terkait akademik (visi menjadi forum besar pertukaran ilmu dengan banyaknya ilmuwan yang hadir) atau finansial (harus balik modal biaya penyelenggaraan kegiatan).

Bagaimana dengan konferensi yang menjamin penuh semua artikel dapat juga terbit di jurnal terindeks Scopus? Penyebabnya bisa satu di antara dua: Panitia konferensi yang kurang paham cara kerja jurnal ilmiah, atau jurnal ilmiahnya yang abal-abal. Berita baiknya adalah adalah setiap tahun Scopus selalu menilai kembali jurnal-jurnal yang ada di daftarnya, dan tak segan mencoret jurnal yang diketahui berperilaku seperti abal-abal. Sehingga, saat ini semakin sempit daftar jurnal abal-abal yang mengaku-ngaku terindeks Scopus.

Catatan Kunjungan ke Markas Elsevier dan Springer Nature (Bag. 2)

Aulia Luqman Aziz (kanan) bersama Manajer Springer Nature ASEAN Rajdev Narayanasamy

Loncat ke pasca-publikasi, dan ini bagian yang belum banyak disentuh oleh akademisi dan penerbit-penerbit ilmiah di Indonesia, adalah mempromosikan, mendiseminasikan, terbitan2 ilmiah itu kepada masyarakat global. Caranya: Promosi konvensional (brosur, leaflet, kartu nama), promosi digital (SEO), dan promosi populer ilmiah. Khusus yang terakhir ini, Springer Nature, misalnya, bekerjasama dengan kampus atau lembaga penelitian negara-negara. Mengolah kembali hasil-hasil penelitian itu dengan bahasa “media massa”. Yang mudah dipahami pembaca non-akademisi. Lalu menerbitkannya dalam bentuk majalah. Lembaga yang sudah melakukan ini di antaranya: Riken (LIPI-nya Jepang) dan UGM kita.

Jadi, publikasi ilmiah itu tak sekedar artikel terbit di jurnal, dan selesai. Tapi ada pekerjaan tambahan yang harus dilakukan jika artikel itu ingin mendapatkan impact yang tinggi. Khususnya oleh penerbit jurnal. Yakni, promosi dan diseminasi. Hanya saja ini masih tak banyak dilakukan di Indonesia. Entah karena apa saja faktornya. Mungkin saja karena ketiadaan SDM yang khusus melakukan pekerjaan itu.

Di Elsevier, Springer Nature, dan ISEAS-Yusof Ishak Institute, ada orang-orang yang khusus melakukan pekerjaan back office. Mereka bukan dosen. Bukan peneliti. Tapi mereka orang-orang pintar. Nicholas Pak, misalnya. Konsultan Elsevier yang kami temui. Ia lulusan Tourism dari kampus di Swiss. Masih muda. Stephen Logan, konsultan dan copyeditor di ISEAS. Juga bukan orang sembarangan. Begitu juga dengan rekannya, (Ibu) Rahilah Yusuf. Etnis Melayu. Di Springer, ada Rajdev Narayanasamy. Yang bertanggungjawab menyelenggarakan workshop kepenulisan di ASEAN. Prof Ocky dari Ristekdikti pasti sangat mengenalnya dengan baik. Juga Alexandra Westcott Campbell. Yang dulu memegang seleksi jurnal ilmiah untuk Springer Nature. Kini editor di publikasi buku. Untuk bidang Humanities and Social Sciences.

Jadi, publikasi ilmiah di ketiga perusahaan itu benar2 dikelola secara profesional. Dengan struktur organisasi yang rapi. Dengan orang2 yang ahli, smart. Kami rasa kita harus belajar dari mereka. Sementara itu, Elsevier sudah berdiri sejak tahun 1500an. Dengan nama Elzevir. Di Belanda. Tapi sejak tahun 2000an, Elsevier diambil alih oleh perusahaan asal Inggris. Bernama Relx. Maka jadilah Elsevier dan anak cucunya (Scopus, SciVal, Digital Commons) berada di bawah Relx Group. Kolaborasi Inggris dan Belanda.

Sedangkan Springer Nature, asalnya adalah dua perusahaan terpisah. Keduanya merger pada 2005. Nature fokus pada publikasi ilmiah, sedangkan Springer fokus pada back office nya. Mereka memakai bendera Springer Nature untuk berbicara dengan berbagai pihak. Termasuk dengan Ristekdikti. Dan beberapa kampus nasional yang sudah menjadi pelanggan mereka. Di antaranya: ITB dan Unair. Tapi yang paling semangat adalah UGM. Mereka sudah pernah gelar 3 level workshop yang ditawarkan oleh Springer Nature. Kampus pertama di dunia yang melakukan itu.

(Baca kembali Bagian ke-1 di sini)

Catatan Kunjungan ke Markas Elsevier dan Springer Nature (Bag. 1)

Aulia Luqman Aziz (kiri) bersama Senior Consultant Elsevier ASEAN Alexander van Stervellen (tengah) dan Nicholas Pak (kanan)

Elsevier, Springer Nature, dan ISEAS-Yusof Ishak Institute. Tiga penerbit ilmiah yang kantornya kami kunjungi kemarin. Dalam kunjungan 3 hari ke Singapura. Dua di antaranya pasti Anda sudah sangat akrab. Raksasa penerbitan ilmiah. Sedangkan satunya adalah penerbit buku dan jurnal ilmiah level ASEAN. Yang juga mengelola jurnal terindeks Scopus.

Dari agenda kunjungan itu, gambaran utuhnya mulai terlihat jelas. Bagaimana ketiganya menjalankan bisnisnya. Bisnis di bidang penerbitan ilmiah. Mereka tak sekedar menerbitkan jurnal ilmiah (jangan salah paham dengan istilah “jurnal” dan “artikel jurnal”). Tetapi juga semua lini kegiatan yang melengkapinya. Mulai dari pra-publikasi, publikasi, dan pasca-publikasi.

Kegiatan pra-publikasi, utamanya adalah mempersiapkan jurnal. Sebagai media penyebaran kajian-kajian ilmiah. Ada 3 skema. Membangun jurnal sendiri, mengambil alih jurnal dari penerbit lain, atau co-hosting. Mengelola bersama dengan penerbit lain. Bersamaan dengan itu, disiapkanlah person2 kuncinya. Editor in Chief, Associate Editors, dst. Jika co-hosting, ada mekanisme seleksi. Jurnal yang tertarik bergabung dengan manajemen pengelolaannya (Elsevier, Springer Nature), harus melalui serangkaian seleksi. Dengan berbagai kriteria yang harus dipenuhi. Menurut Alexander van Stervellen, Senior Consultant Elsevier, hanya 22% dari “lamaran” pengelolaan jurnal yang bisa diterima oleh perusahaannya.

Selain itu, Elsevier dan Springer Nature menyediakan layanan untuk penulis dan pengelola jurnal. Springer menyediakan paket 3 level workshop kepenulisan: Untuk penulis pemula, penulis mid-career, dan penulis senior (post-doctoral). Sementara Elsevier menyediakan platform pengelolaan jurnal berbasis elektronik. Namanya Digital Commons. Sudah dilengkapi dengan alat untuk melakukan SEO. Agar jurnal dan artikel-artikelnya selalu di urutan teratas. Di mesin pencari populer seperti Google. Berbiaya. Tapi tentu imbang dengan fasilitasnya.

Maka, dari sini saja, kami tak heran jika Elsevier dan Springer Nature menjadi dan bisa menjadi penerbit besar di dunia ilmiah.

Bersambung ke Bagian ke-2.