Tentang “Readership”

Sebelum memutuskan untuk menarget suatu jurnal sebagai wadah publikasi, ada baiknya penulis memahami “Readership” dari jurnal tersebut. Apa itu?

Begini. Ketika saya mendaftarkan lembaga saya, Lentera Akademika Nusantara (Lekantara), ke Kemenkumham RI, ada beberapa kategori yang harus saya pilih dan tetapkan sebagai dasar hukum pendirian. Oleh karena core activity Lekantara adalah pendirian jurnal ilmiah yang akan dikelola profesional pertama di Indonesia, maka kategori yang sesuai adalah “Penerbit Berkala”. Dengan ijin sebagai “Penerbit Berkala” dari negara tersebut, kami bisa memilih menjalankan salah satu dari jenis aktivitasnya. Dua di antaranya adalah “koran/tabloid” dan “jurnal”. Artinya apa?

Artinya, “koran” yang Anda baca sehari-hari itu serupa dengan “jurnal” (yang juga Anda baca sehari-hari? Hehe). Dalam hal “Readership”, keduanya memiliki segmentasi pembaca masing-masing.

Koran “Kompas” tentu lebih disukai oleh para cendikiawan daripada golongan berpendidikan rendah karena ulasan-ulasan cerdasnya. Juga koran “Ponsel” akan lebih banyak dibaca oleh penggemar ponsel, dan begitu pula koran “Bola”, “Otomotif”, hingga majalah “Ayah Bunda” dan “Bobo”.

Kalau Anda punya naskah artikel tentang “Cara Menghemat Bensin Kendaraan untuk Mudik Lebaran” (benar kata Dono Kasino Indro: Mudiklah sebelum mudik itu dilarang 😁). Manakah koran yang paling pas untuk menerbitkan naskah tersebut?

  1. Ponsel
  2. Bola
  3. Ayah Bunda
  4. Otomotif

Nah, hal yang sama juga berlaku untuk “jurnal”. Ingat, ia sekelompok dengan “koran”. Maka, sebelum Anda memutuskan mengirim naskah ke suatu jurnal, Anda perlu memahami dulu mana “Readership” dari jurnal tersebut.

Bahkan, jauuuuuh sebelum Anda mulai menyusun proposal atau kerangka naskah artikel jurnal Anda, memahami Readership ini pun perlu dilakukan.

Dengan kata lain, Anda perlu tahu:

  • Apa tujuan dan cakupan topik jurnal ini?
  • Siapa pembaca jurnal ini?

Dari mana Anda bisa mengetahui informasi ini? Mudah sekali. Di laman jurnal tersebut, bukalah halaman “About the Journal”, atau temukan saja seksi “Aim and Scope”. Biasanya informasi tersebut akan muncul.

Semisal, di jurnal yang sedang saya kelola: Erudio Journal of Educational Innovation (www.erudio.ub.ac.id). Cakupan topiknya adalah seputar inovasi di bidang pendidikan dan pengajaran. Baik pedagogisnya, maupun administrasi/manajemennya. Dan pembaca yang ditargetkan adalah: Praktisi pendidikan (dosen DAN guru), serta cendikiawan di bidang pendidikan dan pengajaran.

Maka, jika ingin mengirimkan naskah untuk jurnal saya ini, pastikan topik dan arah tulisan Anda menyentuh betul kelompok pembaca ini.

Readership juga dapat digunakan sebagai prediksi apakah naskah Anda diterima atau ditolak oleh Editor karena kesesuaian topik dan segmen pembaca. Langsung saja saya beri contoh kasus.

Ada sebuah naskah yang dikirimkan ke kami untuk dibantu segalanya sampai publikasi. Ianya bertema Hukum. Topiknya adalah tentang pasal penghinaan terhadap presiden dan wakil presiden RI. Naskah itu dimaksudkan untuk dikirimkan ke jurnal “internasional”.

Tahukah Anda apa makna “internasional”? Artinya Readershipnya, atau segmen pembacanya, adalah orang dari lintas negara. Tak hanya Indonesia.

Menurut Anda, apakah naskah tersebut dapat diterima oleh jurnal yang dituju?

Kalau Anda menjawab “tidak”, maka Anda benar. Mengapa? Pembahasan tentang pasal penghinaan presiden dan wapres RI hanya akan menarik minat pembaca RI saja. Orang Thailand tidak akan tertarik membacanya. Orang Swiss juga sama. Dan mereka tak paham juga konteksnya. Karena konstruksi hukum dan tata pemerintahan di setiap negara pasti berbeda-beda. Bagi pembaca di Amerika Serikat yang cenderung liberal dan sudah biasa mengolok-olok kepala pemerintahannya, mungkin pasal penghinaan itu akan dianggap sedikit aneh. Dan seterusnya.

Readership adalah segala-galanya bagi sebuah jurnal agar ia tetap eksis. Sama seperti koran dan media massa lainnya. Tanpa pembaca atau pemirsa, ia akan mati perlahan.

Pastikan Anda telah bergabung di Grup Telegram Scopus Nusantara untuk mendiskusikan ini lebih lanjut.