Open Access Vs. Non-Open Access (Bag. 2)

Jika kemarin saya sedikit berbagi tentang Non-Open Access, kali ini saya coba berbagi sedikit tentang skema publikasi Open Access.

Kalau Non-Open Access itu lazim pada jurnal-jurnal di luar negeri, maka skema publikasi Open Access lazim pada jurnal-jurnal di Indonesia.

Open Access artinya seluruh informasi dari sebuah artikel yang diterbitkan pada suatu jurnal dapat diakses “gratis” oleh siapapun pembaca artikel tersebut.

Terdapat sebuah keyakinan bahwa jika artikel diterbitkan di jurnal Open Access, artikel tersebut memiliki kemungkinan lebih besar untuk dikutip oleh lebih banyak orang daripada artikel yang terbit dengan skema Non Open Access.

Di luar negeri, gerakan publikasi Open Access mulai menguak ke permukaan di tahun 2000an. Selain karena ada tuntutan untuk membuka akses pengetahuan kepada masyarakat (yang sebelumnya tersimpan di balik dinding pembayaran, alias “paywall”), juga karena ada tuntutan dari lembaga-lembaga pendanaan penelitian yang meminta agar penelitian yang dibiayai oleh lembaga sponsor itu harus dipublikasikan secara terbuka (Open Access).

Akibatnya, beberapa penerbit mapan dan raksasa mau tidak mau harus mengakomodasi tuntutan ini. Yang sebelumnya mereka lebih menonjol dengan jurnal-jurnal Non Open Access-nya, kini mulai menyediakan ruang untuk publikasi Open Access. Baik melalui jurnal-jurnalnya yang sudah eksisting, atau dengan mendirikan jurnal baru yang sepenuhnya Open Access.

Misalnya, Elsevier punya “Heliyon” yang sepenuhnya Open Access. SAGE Publications punya “SAGE Open”, dan Taylor & Francis mengakuisisi penerbit “Cogent OA” untuk mendirikan jurnal Open Access di bawah benderanya.

Meski tidak semua, tetapi kebanyakan skema Open Access memang mengharuskan kontributor/penulis membayar sejumlah biaya publikasi yang biasa disebut Article Processing Charge (APC).

Hal ini wajar dilakukan untuk menutupi biaya operasional penerbit. Berbeda dengan skema Non Open Access, yang membiayai operasional dengan cara menjual akses berlangganan ke perpustakaan atau menawarkan pembelian hak akses per artikel, skema Open Access hanya punya dua opsi untuk mengcover biaya: mengandalkan subsidi dari penerbitnya, atau menerapkan APC.

Yang jelas, penerbitan sebuah jurnal mengandung konsekuensi biaya operasional. Sebagaimana penerbitan surat kabar yang Anda nikmati setiap hari. Dan dengan suatu cara, biaya operasional tersebut harus ditutup.

Lalu, apakah jurnal dengan skema Open Access mengandung peluang publikasi (Acceptance) yang lebih besar daripada mencoba publikasi artikel dengan skema Non Open Access?

Ini isu yang Insya Allah akan saya bagikan di kesempatan mendatang. 😊

Aulia Luqman Aziz