Open Access Vs. Non Open Access (Bag. 1)

Apaan si itu?

Jadi dalam sebuah usaha penerbitan jurnal ilmiah, ada dua skema publikasi yang paling banyak diadopsi oleh jurnal di seluruh dunia. Keduanya berkaitan erat dengan bagaimana sebuah penerbit (kampus, asosiasi, atau perusahaan penerbit) menghidupi operasional dari usahanya itu. Alias kaitannya dengan pendanaan.

Skema non-Open Access adalah skema yang paling tua. Skema ini dulu diterapkan kepada semua jurnal di bawah perusahaan penerbit besar seperti Elsevier, Emerald, Taylor & Francis, Springer Nature, dan kawan-kawannya.

Di bawah skema ini, setiap artikel yang diterbitkan tidak dapat diakses bebas oleh pembaca. Pembaca hanya bisa mengetahui judul, para penulis, abstrak, dan kata kunci artikel itu. Lalu bagaimana jika pembaca ingin membaca lengkapnya? Belilah aksesnya!

Pertanyaannya, siapa yang membeli akses melihat artikel utuh itu? Anda pun bisa. Akses bisa diperjual-belikan per artikel, atau berupa berlangganan (subscription). Akan tetapi, bukan Anda individu target pasar utama penerbit. Melainkan perpustakaan tempat Anda ngajar.

Penerbit akan menawarkan “dagangannya” kepada perpustakaan-perpustakaan kampus di seluruh dunia. Tentu dengan modal artikel-artikel yang berkualitas, yang pastinya akan menambah khazanah pengetahuan warga kampus tersebut. Jika artikel-artikelnya bagus, ada permintaan tinggi dari warga kampus, maka perpustakaan pun akan mengeluarkan dana untuk berlangganan yang kemudian bisa diakses bebas oleh sivitas kampus.

Di sekitar Anda, skema ini sebenarnya tidak asing. Terutama buat Anda yang berlangganan koran setiap hari. Wah, Presiden Mereshuffle Menteri-menterinya! Siapa penggantinya? Saya harus baca di koran. Eits, ingin baca? Beli dulu korannya. Gak ada koran gratis. Hehe. Atau, biar praktis, berlangganan saja bulanan. Ini juga berlaku untuk koran digital, seperti Kompas, Jawa Pos, hingga portal daring seperti Times Higher Education.

Dengan skema itulah Elsevier membesarkan lini usahanya sejak tahun 1800an. Taylor & Francis sejak 1800an.

Akan tetapi, perubahan jaman menuntut pula perubahan. Pun juga tuntutan dari para lembaga penyandang dana penelitian. Khususnya di kawasan Eropa. Sehingga mendorong berkembangnya skema Open Access.

(Bersambung 😁)

 

Aulia Luqman Aziz

t.me/scopusnusantara